Penggunaan Facebook Sebagai Cara Mendapatkan Dukungan Sosial

Image

Sepuluh tahun atau mungkin lima tahun silam, belum terpikirkan bagaimana menggalang partisipasi masyarakat secara langsung dalam waktu singkat dan berhasil mempengaruhi suatu keputusan. Sampai kemudian ditahun 2006, media facebook sebuah situs jejaring sosial mulai mewabah di Indonesia, dan menjadi perhatian berbagai kalangan bukan hanya kaum muda, pelajar dan mahasiswa, namun juga sudah merambah pekerja kantoran termasuk PNS dan pegawai pemda. Didukung oleh perkembangan infrastruktur dan teknologi informasi komunikasi yang semakin baik, menjadikan akses masyarakat pada internet semakin mudah, dan membuat anggota facebook bertambah pesat khususnya di Indonesia.

Di era keterbukaan informasi, situs jejaring sosial menjadi media paling ampuh untuk membentuk opini publik. Karenanya, tak heran jika kemudian banyak orang “berjuang” demi kepentingan rakyat di dunia maya. Gelombang dukungan terhadap isu-isu masyarakat yang berkembang di dunia maya kini sedang menjamur. Mulai dikenal dan marak, sejak pemilihan Presiden Amerika Serikat 2008 lalu di Facebook, yang akhirnya menajdi salah satu faktor yang menghantar Barack Obama mencapai kursi kepresidenan. Dan semenjak itu, gerakan serupa mulai menggejala di mana-mana, termasuk menjamah negeri kita Indonesia.

Facebook dan Pemanfaatan Internet

Facebook adalah sebuah fenomena yang sudah tidak terhitung baru, namun pemanfaatannya pada penggalangan masa/publik – lah – yang baru, khususnya pada kasus-kasus yang berkenaan dengan rakyat banyak. Pemanfaatan facebook sebagai jejaring sosial tidak hanya digunakan pribadi yang ingin berhubungan dengan jejaringnya, namun juga digunakan banyak institusi yang memerlukan dekat dengan komunitasnya. Pemenuhan kebutuhannya pun beragam, dari sekedar menyapa komunitasnya, mengundang, konfirmasi kehadiran, marketing, hingga pada mencari narasumber atau ahli bidang tertentu.

Sementara itu jauh sebelum ini, website telah dipandang sebagai media informasi. Pemanfaatan website yang terbukti dan kemudian banyak diekspos dalam media sebagai bentuk penggalangan masa yang berhasil barangkali ketika Obama memenangkan pemilu di Amerika Serikat. Selebihnya, khususnya di ranah pemerintahan daerah pemanfaatan website baru sebatas pada media penyampaian informasi dan belum dijadikan sebagai media untuk melakukan interaksi langsung dengan masyarakat. Interaksi yang sudah dilakukan baru sebatas pada bentuk-bentuk komunikasi ringan seperti polling atau tanya jawab – dan itupun tidak berkelanjutan.

Apa yang terjadi di Indonesia saat ini, juga terjadi dibelahan dunia lain, misalnya di Inggris. Beberapa waktu lalu Tom Steinberg (Juni 2009) menulis sebuah artikel menarik yang berjudul What the Government Doesn’t Understand About The Internet, and What to Do About It; A View From England dalam mySociety.org.blog. Dalam artikelnya Steinberg mengatakan bahwa saat ini kebijakan pemerintah terkait dengan internet disimpulkan mencakup tiga bidang, yaitu:

1. Bagimana membuat masyarakat tertarik menggunakan internet (akses broadband, dan pengajaran bagi masyarakat yang belum memiliki keahlian atau minat menggunakan internet).
2. Melindungi masyarakat dari dampak buruk yang dapat terjadi dari penggunaan internet seperti terorisme, penganiayaan anak, penipuan, pencurian, atau pelanggaran hak intelektualitas.
3. Pembuatan situs berbagai jawatan dan lembaga.

Dukungan-Dukungan yang Muncul Melalui Facebook:

Image

Di Indonesia khususnya, facebook menjadi alat dan sarana yang efektif untuk menjaring opini publik. Hal ini merupakan suatu perkembangan yang menarik untuk kita simak seputar facebook dan dukungan didalamnya. Masih kita ingat kasus petinggi KPK, Bibit Samad Rianto dan Candra M. Hamzah yang sementara menghuni sel di Mako Brimob oleh Polri. Sejumlah pengguna facebook atau biasa yang kita kenal dengan sebutan facebooker, melihat adanya suatu kejanggalan dalam kasus ini atau antara “cicak vs buaya”, mereka pun menunjukkan beragam luapan reaksi. Para facebooker tersebut membuat sebuah gerakan yang dinamakan “Gerakan 1Juta Facebooker Dukung kasus Bibit-Candra”. Hanya dalam hitungan menit, angka satu juta pun hampir tercapai. Ketika gerakan tersebut sudah melebihi angka satu juta facebooker dan entah ada hubungannya atau tidak, Polri pun menangguhkan penahanan Bibit-Candra. Padahal belum tentu orang-orang yang mendukung gerakan tersebut mengerti atau paham dengan kasus tersebut. Kebanyakan dari mereka yang mendukung gerakan tersebut hanya ikut-ikutan semata atau hanya melengkapi tanpa tau duduk persoalannya itu seperti apa..?

Selain itu juga masih banyak dukungan-dukungan atas suatu kasus yang bisa menimbulkan opini publik yang beraneka macam bentuk dan rupanya melalui facebook. Setelah dukungan untuk Bibit-Candra muncul lagi gerakan serupa, dukungan buat Anggodo, Prita Mulyasari, dan yang terbaru dukungan kecam Komisi III DPR-RI serta dukungan untuk Susno Duaji salah satu petinggi Polri yang membongkar kebobrokan institusinya sendiri. Susno Duaji yang mati-matian membongkar kebobrokan institusi yang selama ini dia mengabdi akhirnya ditahan juga, karena dia diduga tersandung kasus suap PT. Salmah Arowana Lestari (SAL). Penahanan Susno dinilai penuh dengan kontroversi karena disaat dia sedang membongkar kebobrokan Polri, dia malah ditahan. Banyak sekali dukungan yang ditujukan untuk dirinya dari berbagai pihak, mulai dari para mantan petinggi Polri, politikus, dan tidak ketinggalan para facebooker.

Jika kita mengikuti perkembangan media, kita bisa menangkap adanya eksploitasi dukungan yang sebenarnya tidak mengubah keadaan Negeri ini kearah yang lebih baik. Tidak salah memang menggunakan facebook sebagai ajang penggalangan dukungan dan berupaya untuk menggiring opini public. Tapi apakah benar, dukungan melalui facebook yang berisikan protes itu merupakan ungkapan/luapan dari suara rakyat atau mungkin itu hanyalah ulah orang-orang atau pihak yang bersangkutan. Bisa dikatakan dalam hal ini adanya komunikasi politik. Jika dicermati, dukungan melalui facebook itu hanya dilakukan untuk masalah-masalah yang berkaitan dengan korupsi saja atau bersinggungan dengan kebijakan-kebijakan elit politik semata.

Jika dilihat dari masalah yang ada di Indonesia sendiri, tidak hanya masalah korupsi semata melainkan masalah yang lebih merata yaitu pendidikan, dan hal yang sering dianggap sepele oleh masyarakat atau orang-orang tertentu. Kenapa tidak dibuat gerakan penggalangan dukungan bagi hajat hidup orang banyak dan kepentingan rakyat yang seluas-luasnya. Mungkin buat para facebooker yang gemar membuat dukungan melalui facebook, coba deh kalian buat “Dukungan untuk Pendidikan Murah”, ”Dukungan Sembako Murah”, dan atau dukungan-dukungan yang lebih mengarah pada kepentingan rakyat yang seluas-luasnya. Setidaknya suara rakyat bisa sedikit dipublikasikan melalui facebook yang banyak digunakan oleh masyarakat pada umumnya dan mungkin dengan adanya dukungan untuk masalah yang lebih memasyarakat bisa menggugah hati nurani kita sebagai warga negara yang mempunyai rasa empati terhadap sesama.

Facebook di Indonesia sangat digemari, tidak ada situs jejaring sosial lain yang mampu menandingi daya tarik facebook terhadap user. Hampir setiap tahunnya setelah facebook ini berdiri terdapat penambahan 200ribu account baru perharinya dan lebih dari 25juta user aktif menggunakan facebook setiap harinya. Dengan fasilitas yang ada pada facebook kita harus bisa menempatkan dan menerima fungsi dari fasilitas komunikasi yang sesuai dengan proporsinya masing-masing. Dalam mengguanakan fasilitas yang ada pada facebook kita juga dituntut untuk bisas berfikir tepat dan logis serta harus taat pada Undang-undang cyberlaw. Dengan adanya dukungan-dukungan tersebut tidak menutup kemungkinan tingkat kejahatan dan ketidaktaatan pada Undang-undang Cyber begitu tinggi. Mereka yang hanya ikut-ikutan saja tidak mengerti dengan kasus tersebut, hanya saja mereka ingin tetap eksis dan pura-pura ngerti dengan apa yang mereka dukung tersebut.

Fenomena itu bisa terjadi disebabkan oleh beberapa faktor. Pertama, karena situs jejaring sosial semacam Facebook memang memiliki penggemar yang jumlahnya tidak terbatas (selalu bertambah). Menurut CheckFacebook.com, situs yang bisa melacak jumlah anggota Facebook, jumlah anggota situs buatan Mark Zuckerberg itu di Indonesia mencapai 11,7 juta dari total keseluruhan 314 juta orang di dunia. Angka yang mengindikasikan jumlah terbesar di Asia hingga November 2009.

Kedua, kunci sukses gerakan sosial di Internet adalah sesuatu yang mengangkat isu kepentingan publik. Misalnya tentang pemberantasan korupsi, perubahan iklim, isu politik, atau pendidikan. Intinya, apa yang disampaikan di Facebook haruslah sesuatu yang menyangkut masalah publik. Menurut Sekretaris Jenderal Masyarakat Telekomunikasi Indonesia, Mas Wigrantoro, gerakan sosial di Internet bisa menjadi fenomena karena mendapat dukungan pemberitaan luas dari pihak media massa.

Melihat kasus-kasus ini dalam kaitannya dengan pelayanan publik dan partisipasi publik, bagi pemerintah daerah sesungguhnya hal ini dapat dilihat sebagai sebuah bentuk partisipasi yang semakin dekat, cepat atau lambat, akan terwujud pada banyak isu pelayanan publik. Tulisan ini mengingatkan kembali beberapa hal yang sebaiknya mulai diperhatikan pemerintah daerah terkait dengan perkembangan pemanfaatan internet saat ini khususnya terkait dengan keleluasaan masyarakat mengorganisir dirinya sendiri yang sebaiknya dilihat dari sisi positif atau peluang pemerintah menggalang partisipasi.

Partisipasi Langsung Makin Dekat

Saat ini di Indonesia, terdapat satu hal penting yang sebaiknya mendapat perhatian yang lebih tinggi dari pemerintah dan pemerintah daerah, yaitu bahwa partisipasi publik secara langsung semakin dekat. Partisipasi dalam bentuk dan tujuan apapun, apakah itu pada keikutsertaan dalam pemilihan umum, mengutarakan pendapat, mengkritisi suatu kebijakan, evaluasi pelaksanaan program, atau bahkan dalam menyusun perencanaan pembangunan. Mungkin hal ini masih sedikit dipandang sebelah mata, khususnya bagi daerah yang terpencil, namun setidaknya hal ini dapat dijadikan sebuah prediksi yang mendekati nyata dalam kurun waktu yang tidak lama.

Pemerintah memiliki dua kesempatan yang sama besar yaitu mengabaikan hal ini, dan tetap berbisnis dengan cara lama, atau menerima untuk kemudian beraksi ikut dalam tren yang sedang berkembang dalam koridor meningkatkan pelayanan publik. Pilihan pertama, berbisnis dengan cara lama, dengan dalih akses internet yang masih terbatas dan masyarakat yang belum melek internet, hanya akan mengkucilkan pemerintahannya dan masyarakatnya seperti katak dalam tempurung, dan imbasnya barangkali ketertinggalan dalam persaingan pembanguan dan pertumbuhan ekonomi. Pilihan yang kedua adalah pilihan yang banyak ditempuh beraga pihak. Akses internet terbatas dan masyaraat yang belum melek internet menjadi tantangan tersendiri. Akses internet yang terbatas, bukan menjadi alasan, karena jaringan komunikasi saat ini sudah merambah pada banyak daerah remote. Masyarakat yang belum melek internet, jadikan itu sebagai tantangan dan bukan masalah yang tidak terpecahkan, Justru disini peran aktif pemerintah membuka wawasan masyarakat menjadi penentu kemajuan.

Menjadi katak dalam tempurung atau berselancar dalam tren kemajuan yang sedang berlangsung adalah pilihan bebas, namun gelombang besar kemajuan teknologi informasi dan komunikasi yang berdampak global saat ini sedang datang dan sebaiknya kita bersiap menghadapinya.

  •  Nama :
  • Arief Raharjo (153090124)
  • Ika Rani Rievalin (153090283)
  • Henrika Pilar Coleta (153090321)
  • Ayu Dessy Wulansari (153090339)

sumber: http://nickyhaeriani.blog.com/%E2%80%9Dpendapat-tentang-penggunaan-facebook-sebagai-acara-untuk-mendapatkan-dukungan%E2%80%9D/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: